Minggu, 11 September 2011

Tragedi Kerusuhan di Mata Seorang Ibu

Ibu saat wisuda
Dalam penulisan tugas sejarah mengenai biografi tokoh, saya mewawancarai seorang narasumber yang menjadi saksi mata langsung atas insiden kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13 – 15 Mei 1998 di daerah Ibukota Jakarta. Beliau tak lain adalah ibu saya, yang bernama Rohmawati. Dilahirkan di Batu (Malang), 17 Juni 1969, kini berusia 42 tahun. Beliau adalah anak pertama dari 5 bersaudara, terlahri dari pasangan Alm. Ahmad idris dan Dewi Parang Suci.
Pada kesempatan ini, beliau akan berbagi kisah pengalamannya pada masa-masa kerusuhan Mei 1998. Pada waktu itu beliau adalah seorang pekerja yang berkantor di daerah Pantai Indah Kapuk , yang merupakan salah satu wilayah yang paling banyak ditempati oleh warga keturunan Tionghoa.
Latar Belakang
Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei - 15 Mei 1998, khususnya di ibu kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.
Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa — terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia.
Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya orang setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian terhadap orang Tionghoa.
( www.wikipedia.com)
Isu Kerusuhan
Beliau bekerja di perusahaan yang dikepalai oleh salah seorang warga keturunan Tionghoa. Pada waktu itu, orang-orang hanya bisa mendapatkan berita terhangat dengan cepat melalui siaran langsung radio. Dalam siaran disebutkan bahwa massa pemuda dalam jumlah besar akan segera berdemo menyerbu kota. Terkait dengan isu bahwa kendali ekonomi rata-rata dipegang oleh warga Tionghoa yang menyebabkan kurangnya kemakmuran secara ekonomi pada warga negara Indonesia. Sehingga, ribuan massa berencana untuk melakukan demo massal untuk menuntut hak persamaan kesejahteraan. Gejolak amukan massa juga dipengaruhi sudah tidak adanya kepercayaan warga terhadap cabinet pemerintahan yang menjabat, dengan dipenuhi amarah dan nafsu, rakyat ingin segera melengserkan kepemimpinan presiden, pada waktu itu adalah masa kepemimpinan Preseden Soeharto.
Peristiwa Kerusuhan
Kerusuhan Mei 1998 membungihanguskan puluhan gedung dan pertokoan di daerah Jakarta, khususnya lokasi-lokasi yang merupakan tempat perkantoran dan perumahan warga Tionghoa. Pada waktu itu suami beliau berkerja di perusahaan “Coca-Cola” yang jaraknya sangat jauh dari kantor beliau sendiri, dan daerah kantor suami beliau termasuk relatif aman dari insiden kerusuhan.
Berita isu kerusuhan yang sudah menyebar dengan cepat dan luas membuat masyarakat panik menyerbu pasar swalayan untuk memborong persediaan makanan. Saya yang waktu itu berusia 1 tahun 11 bulan sangat membutuhkan nutrisi melalui susu bayi. Di kala kerusuhan, banyak pasar swalayan menjalankan kebijakan untuk hanya memperbolehkan pelanggan untuk membeli satu kaleng susu saja. Akibatnya, beliau (ibu saya) berulang kali keluar masuk toko serta dibantu teman-temannya untuk membeli persediaan makanan.
Malam terakhir beliau berada di kantor, petugas keamanan mengunci gedung dengan teliti dan seksama, berharap keselamatan menjelang puncak amukan massa dan kerusuhan. Di hari kerusuhan itu, massa menghancurkan kaca-kaca toko dan menjarah semua isinya. Hal yang sama ternyata terjadi pada gedung tempat beliau berkerja. Pada keesokan harinya, hanya semalam berlalu setelah meninggalkan kantor tempat beliau berkerja, bangunan gedung sudah rata menjadi tanah. Yang tersisa hanya puing-puing bata dan beton dari bangunan utama yang sudah terbakar hangus. “Benar-benar cuma semalam mama tinggalkan kantor, keesokannya gedung sudah hangus tak berisi.” Tutur beliau.
Semua peralatan kantor seperti mesin fotokopi, meja keamanan, kursi-kursi sudah hilang diangkut oleh massa yang melakukan kerusuhan. Pemandangan jalan-jalan utama di Jakarta yang tadinya penuh gedung tinggi di kanan dan kiri sisi jalan sudah berubah menjadi puing bangunan dan sebaran pecahan kaca dimana-mana. Beliau adalah orang yang mengurus bagian legal di perusahaannya, jadi seluruh sertifikat dan surat-surat asli berada di brankas besi di dalam ruangan kerjanya. Untungnya, brankas besi tahan api itu selamat dari insiden kerusuhan ini, namun isinya sudah sangat rapuh bagai keripik, sekali menyentuhnya dan akan berubah jadi abu selamanya.  Dan pada akhirnya dokumen-dokumen penting itu tidak bisa terselamatkan.
Bisa terbayangkan betapa mengerikannya suasana saat kerusuhan berlangsung, dikala massa mendobrak dan memecahkan kaca kemudian langsung mengangkut segala yang ada di dalamnya. Juga maraknya tindak pemerkosaan dan pelecehan seksual yang terjadi. Situasi benar-benar berada diluar kendali, massa menghancurkan semua barang yang dilewatinya tanpa terkecuali. Ledakan peringatan yang diberikan oleh satuan keamanan tidak cukup meredam padatnya serbuan manusia. Para provokator tindak kerusuhan tidak memikirkan apa akibat yang berkepanjangan dari kerusuhan yang terjadi, mereka hanya terfokus pada tujuan sendiri-sendiri bahkan banyak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Namun petugas keamanan pun sudah tidak berpikir panjang lagi, bukannya melindungi agar tidak ada korban jiwa, mereka malah membalas serangan dan saling melukai.
Suasana kerusuhan
Beliau selama dulu berkerja di perusahaan tersebut kerap kali menjadi seorang Joki kendaraan untuk meelewati three-in-one. Karena kantor beliau dan suaminya berbeda arah perjalanan, beliau turun di tengah perjalanan untuk kemudian pergi ke kantor dengan menaiki kendaraan umum maupun menjadi joki. ”Memang nekat sih, tapi apa boleh buat kan harus mencari nafkah buat beli susu bayinya kamu.” Canda beliau pada saya.
Efek Paska Kerusuhan
Beliau juga menceritakan dampak-dampak yang ditimbulkan dari kerusuhan tahun 1998 tersebut. Pertama, trauma yang mendalam pasti akan dialami para saksi mata yang juga melihat peristiwa kerusuhan secara langsung, juga para korban kekerasaan yang masih bertahan hidup. Suasana yang sangat mencekam saat suara tombak bambu saling menghantam, desingan peluru dan gas air mata yang menggelegar. Ditambah teriakan ribuan massa baik dari kubu pendemo maupun korban-korban yang tergeletak di jalanan. Banyak warga Tionghoa yang segera meninggalkan Indonesia paska insiden ini, disamping banyaknya korban warga Tionghoa, mereka merasa bahwa merekalah target utama dalam kerusuhan tahun 1998 ini.
Kedua, sesaat setelah terjadinya kerusuhan Mei 1998, nilai mata uang Rupiah sangat turun. Dollar yang tadinya hanya bernilai sekitar Rp 2.500, melonjak hingga sekitar Rp 16.000. Hal ini disebabkan karena banyaknya warga yang memutuskan untuk segera pergi keluar dari Indonesia dan tak kembali, kepercayaan pada pemerintah sudah berkurang bahkan hilang sama sekali. “Tetapi ada juga yang mengambil keuntungan dari hal ini, yaitu odang-orang yang menukar Dollarnya dengan Rupiah”. Beliau menjelaskan bahwa ada diantara temannya yang beralih ke usaha menukarkan uang, karena ia sama sekali tidak berencana meninggalkan Indonesia. Bahkan saking runtuhnya keadaan keamanan dan ekonomi, tidak sedikit dari warga Indonesia yang menjual mobilnya di area bandar udara dengan harga sangat murah untuk kemudian langsung meninggalkan tanah air.
Ketiga, banyaknya pekerjayang kehilangan kantor mereka sehingga harus dipindahkan ke lokasi kantor lain yang bisa menampung mereka, bahkan tidak sedikit yang benar-benar kehilangan pekerjaannya. Dahulu beliau sempat dipindahkan sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah dan mencari pekerjaan di perusahaan lain. “Dulu paling repot itu ngurus suratnya lagi, coba aja waktu itu kertas-kertasnya utuh.” Keluh beliau yang kembali teringat masa itu.
Tragedi Semanggi II (1999)
Saya juga ingin menambahkan kisah pengalaman beliau ketika sudah berkerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional atau BPPN. Kembali beliau menjadi saksimata atas peristiwa kerusuhan, kali ini adalah Tragedi Semanggi II tahun 1999. Setahun berselang teragedi trissakti dan kerusuhan Mei 1998, untuk kesekian kalinya aparat keamanan melakukan kekerasan menanggapi aksi-aksi mahasiswa.
“Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu orang dan sekitar jam 3 sore kendaraan lapis baja bergerak untuk membubarkan massa membuat masyarakat melarikan diri, sementara mahasiswa mencoba bertahan namun saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat ketika ribuan mahasiswa sedang duduk di jalan. Saat itu juga beberapa mahasiswa tertembak dan meninggal seketika di jalan. Salah satunya adalah Teddy Wardhani Kusuma, mahasiswa Institut Teknologi Indonesia yang merupakan korban meninggal pertama di hari itu.
Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Universitas Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan seklaligus masyarakat yang terluka. Korban kedua penembakan oleh aparat adalah Wawan, yang nama lengkapnya adalah Bernardus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta. Mulai dari jam 3 sore itu sampai pagi hari sekitar jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan penembakan ke dalam kampus Atma Jaya. Semakin banyak korban berjatuhan baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru dan gas airmata. Sangat dahsyatnya peristiwa itu sehingga jumlah korban yang meninggal mencapai 17 orang.”
(www.wikipedia.com)
Tragedi itu menutup sebagian besar jalan-jalan penting, beliau (ibu saya) terpaksa bermalam di kantor bersama banyak rekan-rekannya. Keadaan semakin menghawatirkan karena gedung kantor tempat beliau bekerja dijadikan base camp bagi para aparat karena letaknya yang cukup strategis. Seluruh pekerja dilarang meninggalkan lokasi, bahkan harus berdiam di lantai tempat mereka bekerja. Beliau berada di lantai 23 dan pada waktu itu lampu gedung harus dimatikan. “Waktu malem mama lihat dari kaca ada benda terang yang saling dilemparkan di bawah, mungkin sejenis molotov(bom api) atau gas air mata.” Jelasnya pada saya. Suara tembakan dan pukulan senjata terus menderu sepanjang malam. Beliau terus berdoa agar keluarganya di rumah diberikan keselamatan, begitu juga dengan dirinya, dan semoga kerusuhan segera berakhir.
Harapan
Beliau dan kita semua tentunya berharap kejadian kerusuhan seperti ini tidak akan terjadi lagi. Biarlah yang telah lalu berlalu dan kita ambil hikmah serta ilmu darinya, pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga. Dan beliau juga mengharapkan untuk para aparat dan seluruh penerus bangsa ini kelak untuk berlaku professional dalam bekerja dan melakukan apa yang menjadi kewajibannya dengan semestinya. Sesungguhnya pertengkaran bisa dihindari jika kedua pihak mau untuk berkerjasama dan mendiskusikan masalah secara benar.
Beliau adalah orang yang sangat saya idolakan, ia adalah seorang pahlawan yang sangat besar bagi saya. Doanya untuk bangsa dan negara tidak akan pernah terputus, semangatnya masih berkibar layaknya bendera merah putih yang menjulang tinggi di angkasa. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar