Jumat, 09 September 2011

Tugas-2: Sebuah Biografi

Kekerasan Dimata Bang Igo


Muhammad Syafril Abdul Rasul atau lebih akrab disapa “Bang Igo” ini adalah paman saya. Ia adalah suami dari kakak ayah saya. Lahir di Gorontalo, 9 Januari 1950 beliau merupakan saksi sejarah kejadian PRRI pada tahun 50-60an. Saya berkesempatan mewawancarai paman saya ini saat lebaran hari pertama, karena beliau tinggal di Baranansiang, Bogor. Mumpung lebaran pertama saya dan keluarga selalu ke Bogor, merupakan waktu yang tepat menurut saya. Memiliki anak 2, laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa, dan dikaruniai satu cucu laki-laki bernama Arley, keluarga Bang Igo menjadi lebih ramai. Karena saudara-saudara saya tidak banyak yang merasa sebagai ‘saksi/pelaku sejarah’ akhirnya beliau bersedia untuk berbagi beberapa ceritanya setelah kami menyusun rencana untuk melakukan wawancara.


Saya memang belum pernah melakukan wawancara sungguhan (kecuali untuk tugas-tugas Bahasa Indonesia) jadi saya agak sedikit gugup, namun kata saudara saya “Udah, kamu tanya satu pertanyaan aja langsung nyambung kemana-mana, kamu tinggal diem aja denger terus tulis” saya pikir dia bercanda, ternyata memang benar. Karena suasananya suasana lebaran, jadi wawancaranya dibawa santai, kami ‘mengobrol-ngobrol’ di ruang tamu depan. Karena Bang Igo ini sangat suka bercerita, dengan logat Gorontalo aslinya ia mengisahkan tentang masa kecil dia saat di kampung halamannya saat ada peristiwa PRRI/Permesta. Dengan ramai dan dengan ‘gesture’ dia yang seru kalau bercerita, kakak-kakak saya, saudara-saudara lain pun akhirnya ikut mendengarkan.

Beliau berkisah tentang pengalaman dia sebagai saksi Permesta. Permesta, singkatan dari Perdjuangan Rakjat Semesta; sendiri adalah sebuah gerakan militer Indonesia. Gerakan ini dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual. Pusat pemberontakan ini berada di Makassar yang pada waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi. Awalnya masyarakat Makassar mendukung gerakan ini. Perlahan-lahan, masyarakat Makassar mulai memusuhi pihak Permesta. Setahun kemudian, pada 1958 markas besar Permesta dipindahkan ke Manado. Disini timbul kontak senjata dengan pasukan pemerintah pusat sampai mencapai gencatan senjata. Beliau berada di usia 7 atau 8 saat itu ia duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar 1 Gorontalo. “Mereka perang pasti ada tujuannya kan? Nah tujuannya ini adalah otonomi daerah!” Bang Igo berkata. Sebenarnya, Permesta tidak termasuk dalam golongan pemberontak juga, Permesta hanyalah menuntut hak yang harusnya didapatkan oleh rakyat Manado dan sekitarnya layaknya pulau Jawa, yaitu pemrataan dana.

Sejak saat itu, semua penduduk terutama kaum muda, yang semula dikerahkan memanggul alat pembangunan, tiba-tiba diminta berganti peran. Pendaftaran mulai dilakukan dimana-mana, baik untuk mendukung barisan pemuda maupun untuk dinas militer Permesta. Latihan kemiliteran pun mulai tampak dimana-mana. Para pemuda, tak terkecuali gadis-gadis, mulai raib dari kampung-kampung. Mereka ikut mendaftarkan diri, lalu dikirim ke pusat-pusat latihan. (Kaum wanita Permesta tergabung dalam Pasukan Wanita Permesta (PWP) dengan potongan rambut seperti Kowad/Polwan). Pendidikan dan latihan secara militer dengan memakai senjata dipusatkan di daerah Mapanget, dilatih oleh para penasehat dari Korps Marinir AS. Pendidikan dengan latihan tempur dalam satuan kompi dan batalyon dilakukan di Remboken, Tompaso dan di daerah perbukitan Langowan. Latihan di sana dipimpin oleh seorang Mayor AD Filipina dengan beberapa perwira APRI (TNI) yang berpendidikan kompi. Kakaknya Bang Igo ternyata adalah salah satu pemuda yang ikut mendaftarkan diri, sayangnya dia sekarang tinggal diluar negeri, kalau tidak, asyik juga kalau bisa diajak ngobrol tentang pengalaman dia dulu. Semangat pasukan Permesta ini dibakar oleh para ahli psywar dan agitasi, lewat teknik pendekatan dan pembinaaan yang jitu. Patahlangi, Putera Bugis yang terkenal sebagai orator dan agitator berbakat, setiap sore terdengar suaranya lewat Radio Permesta Manado, berpidato berapi² mengobarkan semangat Permesta di kalangan pendengar. Berbagai kehebatan dan keunggulan serta kekuatan Permesta ditonjolkan. Sebaliknya setiap kelemahan pihak lawan dipaparkan, dan keburukan ditelanjangi. Slogan perjuangan saat itu adalah: "Permesta Pasti Menang”.
Karena kakaknya ikut pelatihan, tersisa hanya ayah, ibu, dan ketiga adik Bang Igo. Dengan keadaan yang genting seperti itu, Bang Igo memutuskan untuk tidak sekolah dulu karena berbahaya. Suara tembakan amunisi dimana-mana. Kata Bang Igo, Permesta saat itu tidak pernah kekurangan senjata. Salah seorang pemasok peralatan militer Permesta dari luar negeri yaitu Mayor Daan E. Mogot mengakui bahwa dari Italia pernah menawarkan kapal perang, tetapi tidak pernah bisa diambil karena alasan teknis. Demikian juga bantuan dana dan perbekalan, dengan mudah bisa didapatkan dari Taiwan, Jepang, Korea Selatan dan Filipina. Timbunan senjata dan perlengkapan militer terkumpul di Okinawa dan di Filipina. Orang-orang PRRI dan Permesta, Filipina, Cina, Amerika Serikat dan para sedadu sewaan 'dari negara-negara lain' juga telah dilatih dan siap di Okinawa dan di Filipina untuk membantu PRRI dan Permesta. “Wah, seru deh pokoknya. Udah kayak difilm-film action” kata Bang Igo. “Bau mesiu tercium dimana-mana. Bahkan saya pernah melihat kepala manusia ditenteng seperti menenteng keranjang. Saya pernah melihat teman bermain saya, masih tetangga. Dia digotong, mati berlumuran darah disebabkan kena tembakan nyasar dari tentara Permesta ketika mandi bersama TNI di pancoran permandian. Kasihan sekali dia” Kalau perang dengan penjajah sih tidak apa, tetapi ini perang sesame bangsa, sangat memalukan.

Betapa sulitnya bagi rakyat sipil apabila berada dalam posisi peperangan saudara. membantu Permesta dianggap pengkhianat negara. Membantu TNI maka akan dibenci oleh Permesta. Itulah resiko peperangan saudara bagi rakyat sipil. Padahal peperangan dimanapun juga, yang melakukan adalah mereka yang memiliki senjata. Bukan rakyat sipil. Rakyat sipil tak boleh dibawa-bawa. Kira-kira begitu pemahaman yang benar. “ Kekerasan sudah saya lihat sejak masih kecil. Tetapi, mengapa saya tak tahan melihat kekerasan yang dipertontonkan oleh televisi kita? Selalu saja saya memalingkan wajah kalau  ada pemberitan kekerasan antara petugas dan rakyatnya” Saya pribadi mungkin tak akan tahan melihat, sebab sungguh memilukan. Kalau pada zaman pergolakan Permesta, itu kan memang kondisi perang. Namanya saja perang, tentu yang muncul adalah kekerasan. Kalau soal rakyat yang kena imbas kekerasan, maka itu bukan sesuatu yang disengaja. Hanya imbas dari peperangan itu. Misalnya, rakyat sendiri yang tak bijak dan arif dalam memposisikan diri sebagai rakyat sipil, tapi yang terjadi sekarang ini bukan dalam kondisi peperangan. Tidak ada musuh separatis. Tidak ada yang memberontak, mengangkat senjata melawan pemerintah yang sah. Kenapa bisa-bisanya ada yang saling kejar, salin pentung, saling sabet pakai parang. ada yang namanya kepung mengepung. ada pula istilah mundur, maju. Itu kan semua adalah istilah dalam perang. Masa dalam sebuah negara yang damai dan demokratis jadi seperti itu?

Dengan adanya perang saudara seperti itu, Bang Igo beserta keluarga (dan masyarakat lain pun juga) mengungsi di tempat pengungsian. Bang Igo menceritakan bagaimana awalnya pengungsian. Pukul tiga pagi beliau dibangunkan oleh ibunya untuk mengemaskan bajunya dan barang-barang berharga lainnya. “Kami rombongan keluarga berjalan menuju perkebunan yang berada sekitar enam kilometer dari kampung. Ya… namanya mengungsi dengan alasan pasukan TNI sudah mulai memasuki kota” Ternyata tidak semua warga mengungsi. Hanya keluarga Bang Igo dan ada beberapa tetangga. Alasan keluarga Bang Igo mengungsi, karena ada beberapa dari keluarga mereka yang masuk tentara permesta, ada juga yang menjadi petinggi Permesta dan mereka itu ada ditengah hutan setelah dipukul mundur dari kota oleh TNI. Maksudnya, ada kekhawatarin orang tua Bang Igo nanti akan dibunuh oleh TNI hanya karena banyak keluarga dekat yang petinggi Permesta. 

Saya pikir mereka mengungsi di pos-pos seperti tenda begitu, ternyata mereka mengungsi di gua-gua. “Iya, ibaratnya kayak The Flinstones, setiap keluarga punya gua sendiri” Jadi kira-kira selama beberapa minggu mengungsi di tempat gua, apa betah ya?  “Jadi kita mengungsi tuh di gua. Gelap, lembap, setiap kita tidur, ada saja guncangan-guncangan dari luar” dari deskripsi Bang Igo tadi, ternyata kondisinya sangat heboh juga. Bayangkan saja, kita lagi tidur di gua melindungi harta dan anak-anak kita, sementara di luar dan diatas gua terdengar sekali sahut-sahutan, teriakan, dan gencatan senjata. “Kita makannya ya apa saja yang ada di gua itu, kebetulan ada pohon pisang di dekat gua. Jadi ya tiap hari makan pisang rebus saja terus. Mandinya? Ya begitulah hahahaha” Kami tertawa bersama karena ternyata persediaan air tidak ada. Bukannya tidak ada, tapi selalu kehabisan atau biasanya dipentingkan untuk keperluan yang darurat-darurat saja. Lagian di situasi seperti itu, kebersihan badan tidak terlalu penting bukan? Setelah beberapa bulan mengungsi, keluarga Bang Igo dihimbau oleh pemerintah agar pulang dari pengungsian dengan jaminan tidak akan diapa-apakan. “Jangan takut. Rakyat sipil  tidak akan dianggap atau disamakan dengan tentara Permesta. Rakyat sipil akan dilindungi oleh TNI dan itu memang menjadi kewajiban TNI.” Begitu pengumuman pemerintah yang dikirimkan ketempat pengungsian. Walau diliputi perasaan was-was. akhirnya keluarga Bang Igo meninggalkan pengungsian. Setelah tiba di kampung, memang benar apa yang diumumkan pemerintah. Tidak ada satupun warga sipil yang dibunuh oleh TNI. “Ketika tiba dirumah setelah sekitar enam bulan di pengungsian, yang pertama saya cari adalah kucing kesayangan saya, si Mpus. Saya memanggil pus.. pus dan langsung saja terdengar suaranya, ia datang ke saya melompat dengan lincah. Saya agak heran, keadaan lagi gila seperti ini dia masih saja bersih, lincah seperti tidak ada apa-apa” Kucing kesayangan Bang Igo ini lagi disamping radio Grundig (radio tahun 50-an yang pakai cok listrik) yang dibungkus kain sarung.

Masih dengan kesenangannya dengan kucing, Bang Igo dengan istrinya Ina sekarang mempunyai 5 kucing kampung blasteran Persia. Dengan tinggalnya beliau di Bogor, namun beliau masih rutin beberapa bulan sekali kembali ke kampung halaman, mengingat kenangan-kenangan yang tertinggal disana, kenangan yang tak mungkin dilupakan. Jarang-jarang kan sekarang bisa mendengar suara senjata-senjata secara langsung atau melihat kepala menggelinding bukan? Itulah sedikit kisah dari Bang Igo, seorang anak kecil yang masih di sekolah dasar ditengah peperangan saudara. Sebelumnya mohon maaf, karena mungkin ini hanya segelintir dari peristiwa tersebut, dikarenakan usia beliau sudah mencapai usianya; umur 61 tahun, jadi sudah agak-agak lupa, kadang beliau sukar membedakan pengalaman yang ia alami, dan imajinasi yang ia bayangkan, jadi mohon dimaklumi, saya tahu wawancara ini patut dipertanyakan kebenarannya. Saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan tugas ini, walaupun beliau juga tidak terlalu berperan dalam peristiwa ini namun dengan ceritanya tentang masa kecil beliau dulu, kita bisa setidaknya, membayangkan bagaimana suasananya ketika sedang ada peperangan ini. Mudah-mudahan perang antara sesama anak bangsa tidak lagi akan terjadi di republik ini. Dengan alasan apapun, perang tetap kejam dan selalu saja rakyat yang tak berdosa menerima dampaknya. Maka dengan itu, sebarlah perdamaian, mari kita saling bergotong-royong. Seperti kata semboyan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar