Minggu, 11 September 2011

Dari Penjajahan Jepang Hingga Gerakan 30 September

Alhamdulilah saya masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan kakek dan nenek saya.  Saya mengunjungi rumah kakek nenek saya yang kebetulan berdeketan dengan rumah saya. Saat saya mengatakan ingin mewawancarai kakek saya, beliau dengan senang hati bersedia untuk diwawancarai dan mempersilahkan saya untuk duduk. Alhamdulilah kakek saya masih dalam keadaan sehat walafiat walaupun pendengarannya sudah mulai berkurang. Beliau pernah bercerita tentang kejadian - kejadian bersejarah dari mulai zaman penjajahan Jepang hingga PKI yang disaksikan dengan matanya beliau. Karena itu pada kesempatan ini saya ingin mewawancarai kakek saya untuk mengetahui  lebih jauh peristiwa dan pengalaman - pengalaman kakek saya yang pernah dialaminya sebagai saksi sejarah - sejarah yang terjadi di  Indonesia.

Nama panjang beliau adalah Soetarno, putra dari pasangan Alm. Satiyo Sastro Utomo dan Alm Suti. Lahir pada tanggal 27 November 1938 di Pacitan, Madireun. Beliau adala anak pertama dari sepuluh bersaudara.  Beliau pernah bekerja di Perusahaan Negara Pembangunan Perumahan (Persero) dari tahun 1964 hingga 1996. Setelah pensiun, beliau mengurusi perkerjaan rumah tangga sampai saat ini.

Penjajahan Zaman Jepang

Pada tahun 1941, yang pada saat itu wilayah Indonesia masik diduduki oleh Kolonial Belanda, Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia dengan tujuan menjajah untuk kepentingan negara mereka (Pada saat itu Jepang terlibat dalam Perang Dunia 2). Jepang memasuki wilayah Indonesia melalalui jalur laut, dan berlabuh di Pelabuhan Eretan Losarang, Indramayu, Cirebon.

Setelah Jepang telah menduduki wilayah Indonesia (sebagai penjajah), pada tahun 1941 akhir, Jepang memperlakukan warga masyarakat sebagai pekerja paksa atau istilah yang lebih dikenal yakni Romusha. Masyarakat bekerja dengan sangat berat, tanpa digaji serta hanya diberikan makanan Bulgur (semacam Nasi) tanpa lauk. Perjuangan masyarakat terasa jauh lebih berat dibandingkan saat dijajah oleh Belanda.

Kakek saya sudah bisa mengingat peristiwa - peristiwa yang dialaminya sejak umur 4 tahun. Kakek saya pada saat itu tidak tinggal di wilayah kota, melainkan di perkampungan kecil di Pacitan, Kecamatan Punung. Oleh karena itu tentara Jepang yang berada di kampung kakek saya pada saat itu tidak terlalu banyak jumlahnya dibandingkan tentara Jepang yang berada di wilayah kota. Namun demikian,  kakek saya menceritakan bahwa beliau setiap di perjalanan dari rumahnya menuju sekolah , kakek saya sering melihat tentara Jepang berpatroli sambil bernyanyi mars tentara Jepang.

Alm. Sokromo, buyut saya
Alm. Sokromo, beliau adalah eyang dari kakek saya. Mbah Sokromo adalah pekerja paksa atau Romusha. Meski demikian, kakek saya bisa bersekolah karena ayah beliau. Mbah Satiyo adalah pekerja instrumen gamelan. Kakek saya pada saat itu melihat tentara Jepang sedang menggeledah rumah dan merampas harta benda milik masyarakat di kampung kakek saya. Bahkan rumah kakek saya sendiri pernah digeledah oleh tentara Jepang. Kakek saya dan keluarganya pada saat itu hanya bisa berpasrah. Hasil panen padi milik keluarga kakek saya pada saat itu dirampas oleh tentara Jepang dan 2 hewan sapi kepunyaan kakek saya ikut terambil. Menurut kakek saya, setelah dikumpulkan semua barang - barang seperti padi atau hewan - hewan oleh tentara Jepang, masyarakat disitu diperintahkan untuk mengangkut barang - barang tersebut ke truk milik tentara Jepang untuk dibawa ke markas.

Masyarakat pada saat itu mencoba untuk mencari jalan alternatif agar harta milik mereka tidak dirampas oleh tentara Jepang. Kakek saya menuturkan, padi disembunyikan di dalam tanah agar tidak terlihat oleh tentara Jepang. Adapun hewan - hewan ternak bisa disembunyikan di ruangan bawah tanah. Tetapi semua kegiatan di kampung kakek saya dapat terlihat oleh tentara Jepang. Memang pada saat itu tentara Jepang jumlahnya tidak banyak, tetapi tentara Jepang mempunyai "mata - mata". Mata - mata tentara Jepang tersebut bukanlah orang Jepang, melainkan orang Indonesia itu sendiri. Semua kegiatan dari bertani, berternak ataupun yang lainnya terjangkau oleh mata - mata itu yang selanjutnya akan dilaporkan kepada tentara Jepang. "Tentara Jepang itu sebenarnya ramah", ungkap kakek saya. Ya, kakek saya mengatakan tentara Jepang ramah, tidak menganggu masyarakat disitu. Tetapi jika sudah ditugaskan, barulah terlihat kekejaman tentara Jepang. Itulah pengalaman kakek saya pada saat penjajahan Jepang.

Di tahun 1945 sebelum merdeka, Hiroshima dan Nagasaki di bombardir oleh tentara Sekutu, sehingga memaksa tentara Jepang yang berada di Indonesia ditarik ke negaranya. Kesempatan emas itulah diambil oleh bangsa Indonesia untuk mengambil alih penjajah Jepang untuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonsia oleh Soekarno dan pejuang - pejuang bangsa lainnya. Setelah Jepang menyatakan menyerah dan Indonesia telah merdeka, semua rakyat pada saat itu meneriakkan "Merdeka! Merdeka!". Kakek saya pun juga ikut merayakannya. "Tidak peduli siapapun orang yang ditemui oleh saya, teman ataupun orang lain, mereka pasti akan memberi hormat dan meneriakkan Merdeka!", tutur kakek saya pada saat itu.

Agresi Militer Belanda

Sebelum tentara Jepang memasuki wilayah Indonesia, kolonial Belanda dan Inggris ingin menjajah Indonesia melalui Tanjung Perak, Surabaya. Namun demikian, pihak kolonial mengirimkan kapal perang ke Pelabuhan Pacitan dengan pengawalan pesawat "cocor bebek" (bentuk pesawat pada saat itu memang berbentuk seperti cocor bebek dan diistilahkan pesawat cocor bebek oleh masyarakat sekitar). Peristiwa itu terlihat oleh kakek saya. Kakek saya sebagai saksi melihat pesawat pengintai berkitar - kitar di sekitar Kabupaten Pacitan hingga Kecamatan Punung.

Tahun 1947, pada saat itu, sedang musim kemarau. Sedangkan di daerah Kecamatan Punung sangat gersang. Sulit sekali untuk mendapatkan air bersih maupun air biasa. Pada saat itu, kakek saya membantu eyang beliau untuk memelihara tanaman bibit cabai. Oleh karena itu, kakek saya selalu memanjat pohon kelapan untuk mendapatkan daun kelapa yang kering, untuk menahan panasnya matahari. Terjadilah kecelakaan jatuh dari pohon kelapa hingga kurang lebih sekitar 3 bulan baru bisa kembali membantu eyang beliau menanam bibit cabai. Bekas kecelakaan tersebut dapat terlihat sampai sekarang.

Pada waktu proses penyembuhan  kakek saya akibat jatuh dari pohon kelapa, pesawat pengintai kolonial berkitar - kitar diatas Kecamatan Punung dengan menjatuhkan beberapa mortir dan bom. Pada saat itu, keadaaan kakek saya belum sepenuhnya sembuh dari dampak kecelakaan. Untuk menyelamatkan nyawa, kakek saya dan keluarga beliau berlindung dengan meja, kursi dan balok - balok untuk menahan apabila pesawat pengintai menjatuhkan mortir dan bom. Dengan usaha demikian, ternyata bisa menyelamatkan nyawa yang keadaan kakek saya pada saat itu belum sepenuhnya sembuh akibat kecelakaan.

"Sebenarnya berlindung dibawah meja, kursi dan balok - balok memang tidak akan menahan mortir dan bom. Memang jika mortir tersebut jatuh di sekitar rumah dan rumahnya yang ambruk, kita masih tertolong. Lah kalo mortirnya yang jatuh tepat di rumah? Sudah pasti hancur lebur dong", tutur kakek saya sambil tertawa. "Alhamdulilah tidak ada korban jiwa di Kecamatan Punung, mortir tersebut mungkin jatuh bukan disekitar perumahan", lanjutnya.

Tahun 1948, pada saat itu, hanya terdapat satu sekolah di Kecamatan tersebut yaitu Sekolah Rakyat 5. Ayah dan Ibu beliau dipindah tugaskan ke Solo. Kakek saya dapat melajutkan pendidikannya disana. Kakek saya meneruskan Sekolah Dasar enam tahun di sekolah dasar Ketelan Mangkunegarang, Solo. Setelah setelah selesai, beliau meneruskan ke Sekolah Menengah Pertama Kasatarian dan melanjutkan pendidikannya lagi ke Sekolah Menengah Kejurusan, Jurusan Koperasi Cokrominoto, Solo. Saat kakek saya berada di solo, beliau dapat menikmati kehidupan dengan damai disana karena tidak terdapat kejadian atau peristiwa - peristiwa di Solo pada saat itu.

Gerakan 30 September

Setelah kakek saya lulus dari SMK, beliau menuju Jakarta untuk mencari kesempatan bekerja. Di tahun 1964, kakek saya bekerja di Departemen Perindustrian yang beralamat di Jalan Kemakuran Jakarta Kota. Pada tahun yang sama, beliau pindah bekerja ke Perusahaan Negara Pembangunan Perumahan yang beralamat di Jalan M.H Thamrin No.57, Jakarta.

Kakek saya menceritakan pengalaman beliau sebagai saksi saat Gerakan 30 September menduduki Kantor Telkom.Pada tanggal 30 September 1965, kakek saya sedang bekerja di kantor PT Pembangunan Perumahan. Kebetulan pada saat itu, kantor kakek saya yang beralamat di Jalan M.H Thamrin, terdapat kantor Telkom yang berada di depan kantor kakek saya. Kantor Telkom pada saat itu sedang diduduki oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI. Beliau sama belum mengetahui bahwa yang sedang menduduki Kantor Telkom tersebut adalah PKI. Semua gerak gerik PKI yang berada di Kantor Telkom terlihat oleh kantor kakek saya. Beliau pada saat itu berada di lantai lima. 

Tidak lama, terlihat 3 tank sedang bergerak menuju Kantor Telkom. Kakek saya melihat baku tembak antara ABRI (Istiliah ABRI dulu populer) dengan PKI. Kantor PT Pembangunan Perumahan tidak terkena baku tembak tersebut karena jarak antara Kantor Telkom dengan kantor kakek saya agak jauh walau kantor tersebut berada di depan Kantor PT Pembangunan Perumahan. Baku tembak tersebut tidak berlangsung lama. Tidak diketahui apakah PKI berhasil terbunuh atau tertangkap yang ada pada saat itu, yang jelas kantor Telkom sudah diambil alih oleh tentara.

Peristiwa tersebut pada saat itu belum diketahui oleh masyarakat. Baru setelah beberapa selang hari diketahui bahwa yang menduduki Kantor Telkom tersebut adalah PKI. Kantor Telkom yang pada saat itu diduduki oleh Gerakan 30 September, sekarang sudah menjadi lokasi Kedutaan Besar Jepang. Setelah diketahui bahwa peristiwa tersebut adalah ulah Gerakan 30 September, ternyata Gerakan 30 September tidak hanya menduduki Kantor Telkom, sudah ada beberapa jendral - jendral yang terbunuh oleh PKI tersebut. Masyarakat bahwa pada saat itu baru mengetahui bahwa jendral - jendral yang sudah terbunuh, dibuang di sumur tua di Kalibata. Kakek saya dan masyarakat sekitar juga bisa menyaksikan di lokasi tempat pembuangan para jendral - jendral. Kemudian jendral - jendral tersebut diangkat oleh tentara. Sekarang sumur tersebut menjadi monumen nasional.

Saya dengan kakek saya saat diwawancarai
Soetarno, beliau adalah kakek saya. Saya dapat mewawancarai kakek saya karena lokasi rumah beliau yang berdekatan rumah saya dan mudah ditempuh. Tidak sepenuhnya kakek saya menjadi bagian dari pelaku sejarah mulai dari penjajahan Jepang hingga Gerakan 30 September karena beliau hanyalah saksi semata - mata. Beliau juga bukanlah seorang tentara ataupun pejabat penting pemerintah, melainkan hanya masyarakat biasa. Masa kecil beliau yang selalu dihantui oleh rasa takut yang ditebarkan oleh tentara Jepang tidak membuat beliau menyerah dalam menempuh pendidikan. Setelah saya selesai mewawancarai beliau, saya dapat merasakan rasa suka dan duka kakek saya selama hidupnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar